Showing posts with label Curahan Hati. Show all posts
Showing posts with label Curahan Hati. Show all posts
Monday, 1 August 2016
Seruan untuk saudaraku yang sadar untuk menamai dirinya 'aktivis dakwah', Berkacalah pada apa yang nampak di timur jauh disana...
Dibelahan dunia yang lain, Tauhid, seruan untuk meninggikan kalimat Lailahaillallahu muhammadarasulullah, telah digalakkan dengan kerikil berdarah, mortir, tank, senjata laras panjang, dan rudal-rudal penghancur. Bahagia mata melihat 'mereka' yang sombong dan membangkang, yang umumnya bertubuh kekar dan bersenjata lengkap, lari tunggang langgang, bahkan terbujur kaku dibaluti oleh puluhan luka dari para pejuang tauhid, para mujahiddin.
Dibelahan dunia yang lain, Tauhid, seruan untuk meninggikan kalimat Lailahaillallahu muhammadarasulullah, telah digalakkan dengan kerikil berdarah, mortir, tank, senjata laras panjang, dan rudal-rudal penghancur. Bahagia mata melihat 'mereka' yang sombong dan membangkang, yang umumnya bertubuh kekar dan bersenjata lengkap, lari tunggang langgang, bahkan terbujur kaku dibaluti oleh puluhan luka dari para pejuang tauhid, para mujahiddin.
Itu buah tangan mereka wahai saudaraku, buah tangan para penyeru tauhid berjubah mujahiddin, yang menunjukkan izzah dan kekuatan kepada mereka yang berani memberangus kaum muslimin dan sombong menentang ketauhidan. Buah tangan saudara-saudara kita yang juga bercelana cingkrang, memeluk Alquran dan hadits diatas dan didalam dada-dada mereka. Buah tangan saudara-saudara kita, yang telah dibukakan pintu 'jihad' untuk mendakwahkan kalimatillah..
Kita masih di Indonesia kawan, negeri yang masih aman sentosa, yang merupakan negeri dengan muslim terbanyak di dunia. Allah belum membuka pintu jihad di Indonesia, maka bersabarlah, berdakwahlah dengan santun dan khidmat, sampai pintu itu tiba suatu saat nanti. Lihatlah saudara muslim kita di suriah, dan tataplah para penentang ketauhidan di negeri kita. Para penentang itu butuh dakwah, saudaraku, Mereka yang 'body'nya tak sekekar musuh-musuh Allah yang dibumihanguskan di suriah, seharusnya mampu kau taklukan, taklukkan dengan dakwah bil hikmah. Mereka, para liberal dan penentang dakwah disekitar kita, dikampus kita, memiliki tubuh mungil dan suka ngos-ngosan. Mereka tak sekekar musuh-musuh Allah dijazirah Arab yang telah depecundangi oleh saudara-saudara kita para Mujahiddin disana. Maka tak ada alasan bagimu untuk menakuti mereka.
Temui mereka dimeja-meja mabuknya, diruang-ruang kajiannya, ditrotoar-trotoar pembangkangannya. Ajak mereka dengan nasihat bilhikmah, ajak mereka kepada Allah, debatlah dengan bijak dan berdalil, patahkan kesombongan-kesombongan mereka. kemudian liriklah saudara-saudara kita yang masih tertidur dikala adzan berkumandang. Raihlah tangan-tangan polos mereka, ajak kepada Mentauhidkan Allah subhana wa ta'ala. Liriklah pemuda-pemuda yang masih asyik bermain dengan game-game mereka dan dakwahilah, liriklah kepada para pemuda yang masih yakin hidup 100 tahun yang akan datang, sadarkanlah pada kematian. Liriklah kepada para pemuda yang katanya mau menjadi islam yang biasa-biasa saja, sadarkan mereka bahwa islam yang sesungguhnya adalah yang mau mempelajari Alquran dan sunnah.
Teladan dan pendahulu kita adalah mereka, yang telah mengorbankan jiwa dan raganya untuk tegaknya Agama Allah jala jalaluh dimuka bumi.
Rasulullah dengan dakwahnya dan kegagahannya dalam jihad..
Umar dengan keperkasaannya
Khalid Bin Walid dengan ketajamannya
Salahuddin Al-Ayubi dengan terjangannya
Muhammad Al-Fatih dengan perjuangannya
Sultan Sulaiman dengan kecerdesannya
Sultan Qurthuz dengan keberaniannya
Bung Tomo dengan pekikan takbirnya
dan tokoh-tokoh pemuda muslim, para aktivis dakwah yang telah menancapkan panji peradaban dipermukaan bumi ini...
Bukan mereka yang hanya duduk manis bersama literasi sesatnya
Bukan mereka yang hanya melambai dengan nyanyiannya
Bukan mereka yang gemulai dengan tariannya
Bukan mereka yang dijadikan 'senior' oleh pemuda yang sakau akan idealisme dan kegalauan...
Karena kita di Indonesia dan saudara kita di negeri muslim lainnya, memiliki Tuhan yang sama, Nabi yang sama, Kitab yang sama, Jalan yang sama, jihad. dan cita-cita yang sama, yakni Syahid fi sabilillah.
Friday, 22 July 2016
On 11:33 by Unknown in Curahan Hati 173 comments
Rambutnya panjang, body-nya kekar dan terlihat agak seram...
Sosok itu menatapku dari jauh, namun.... suasana pecah ketika dia memulai senyum kepadaku,,
yah, mau tidak mau kubalas senyumannya..
Friday, 15 July 2016
On 08:50 by Unknown in Curahan Hati No comments
Pemandangan siang ini begitu indah. Ditemani cincin giok temuan dari jamaah
masjid yang tertinggal, mencoba melempar pandangan kearah jam 12 sambil mencoba
menjelajah internet. Jaringannya laload kawan, sehingga pandanganku kembali
terlempar ke penjuru sana.
Berjalan segerombolan laskar hitam putih dengan langkah gontai dan penuh
canda. Para calon wisudawan rantauan ternyata. Akhir-akhir ini, telingaku
digaungi oleh suara-suara mereka, kawan-kawan seleting yang baru saja
menyelesaikan studinya, dan dekatlah waktunya mereka memakai topi lebar
berbentuk aneh dikepala mereka, oh iya ada ekornya juga.
Tuesday, 28 June 2016
On 02:49 by Unknown in Curahan Hati No comments
Kehidupan kurasakan senantiasa melilitku,,
Didampingi oleh kemaksiatan yang berkesinambungan,
Dunia oh dunia,,
Sampai kapankah kesukaranmu mengalihkanku
Aku telah berusaha untuk memfokuskan segala daya dan upaya
untuk amalan akhirat, namun lagi-lagi, dia – dunia, selalu menungguiku di depan
gang
Coba untuk kuhindari, namun,,
ASSSSSH
On 02:47 by Unknown in Curahan Hati 1 comment
Jika kesialan menyertaimu,
Kala kesukaran menjumpaimu,
Dan tatkala kesedihan melandamu,
Maka bercerminlah…
Lihatlah dirimu,
Pandanglah wajahmu,
Friday, 13 May 2016
On 12:18 by Unknown in Curahan Hati No comments
Kugambarkan padamu kisah cintaku di lembaga dakwah. Lembaga yang memperkenalkan kepadaku arti dari sebuah kehidupan. Disini aku menemukan tempat, banyak teman, dan banyak arah, yang menunjukkan arah kehidupanku.
Saturday, 4 October 2014
On 08:01 by Unknown in Curahan Hati No comments
Gema takbir dari masjid dekat rumah semakin memperkaya sakralnya hari itu, sampai pada ramainya lorong akan iring-iringan busana muslim dan mukena, menghamparkan aroma khas idul adha.
Kini semua itu terpampang jelas di dinding triplek depan mataku. Kupandangi terus si bisu ini sambil mendengarkan alunan takbir khas adat rantauan.
Yah, alunan takbirnya ternyata jauh berbeda dengan di tanah kelahiranku.
Kembali ke topik, keningku telah bergerak 5 detik lebih cepat ke depan, membayangkan perjalanan esok ke masjid dekat kos tanpa pendampingan keluarga, tanpa senyum sapa teman-teman lorong, dan pulangnya juga dipastikan sunyi.
Yah, inilah resiko beruji nyali dan nasib di perantauan.
Selamat Hari Raya Idul Adha gan,,
Terkhusus kepada keluarga yang nun jauh di sana...
Thursday, 2 October 2014
On 20:51 by Unknown in Curahan Hati No comments
Masa depan merupakan suatu kepastian yang akan kita hadapi
namun entah sejauh mana masa depan kita akan dapati tak seorangpun
menhetahuinya. Meski demikian, apa yang akan terjadi pada diri kita di masa
yang akan datang dapat diprediksi.
Prediksi tersebut dilakukan setelah mengamati yang kita
alami saat ini untuk menyusun akibat yang akan terjadi nantinya. Dan inilah
prediksi saya:
Berbicara mengenai prediksi, prediksi saya adalah saya
mampu mencapai IPK lebih tinggi dari IPK semester sebelumnya. Prediksi ini saya
buktikan dengan langkah nyata yakni memperbaiki pola belajar dengan
mengedepankan efisiensi waktu serta pola belajar yang teratur. Langkah ini
sejalan dengan pendekatan saya kepada Tuhan Rabbul ‘alamin agar senantiasa
diberikan kemudahan dalam belajar dan beramal.
Prediksi saya selanjutnya adalah mampu menyelesaikan S1
kurang dari 4 tahun. Prediksi ini telah tertanam dalam harapan dan cita-cita
saya semenjak pertama kali mendengar istilah kuliah. Dengan melihat segala yang
terjadi dan dialami oleh pendahulu atau para senior yang telah sukses dalam
perkuliahannya. Langkah atau pembuktian atas prediksi itu adalah dapat saya
wujudkan dalam bentuk manajemen waktu.
Prediksi selanjutnya adalah saya dapat menyelesaikan
seluruh soal fismat atau fisika Matematika di ujian final nanti. Tentunya harus
dibarengi dengan banyak latihan soal sehingga tangan dan tubuh saya akan
terbiasa dengan model-model soal walaupun beribu soalnya. Pembuktian lain
adalah dengan mengerjakan Lembar Kegiatan Mahasiswa yang dilampirkan di buku
ajar.
Sunday, 21 September 2014
Seperti biasa, setiap akhir semester terpampang selembar plastik 1 x 3 meter didepan kami.
" . . . . . PEMBAYARAN SPP MULAI TANGGAL XX-XX-XXXX,
TERLAMBAT CUTI AKADEMIK . . . . . . "
Macetnya jalan depan kampus membuat gerah dan sepertinya kami akan terlambat untuk tiba di Bank pagi ini.
Sampai pada suara sendu mesin itu menyebut nomor antrianku, dan tiba saatnya untuk menyerahkan upeti atas masa belajarku satu semester kedepan.
Yah, setidaknya ada bukti bahwa upeti telah kubayar lunas, selembar kertas tisu berwarna kuning diberikan kepadaku dari si kasir bank yang cantik jelita.
Rincian 1 : SPP Nominal : Rp.xxx.xxx,00
Rincian 2 : PRAKTIKUM Nominal : Rp.xxx.xxx,00
Angka-angka itu bergandengan sambil terus kutatapi dan berharap akan sesuai dengan apa yang kudapat nanti.
Simpangan-simpangan pun berlalu, walaupun baru 2 sampai 3 yang kulalui.
Waktu berlalu sampai pada organ tubuh penghasil cairan empedu ini miris ketika mendengar celotehan sang dosen.
"Yah, minimal 200 ribu kalian harus berkorban"
Tahukah kamu, 200 ribu itu adalah sebuncah kertas bertuliskan BI yang akan kami keluarkan untuk melengkapi tugas proyek praktikum kami.
Ungkapan sang dosen terus mengaduk pikiranku. Kurebahkan diriku dalam bilik kosku. Pandanganku kosong memikirkan dalamnya saku celanaku. Tak maukah dia menunggu sampai 7 hari kedepan? ketika sang manusia setengah dewa di tanah asalku mengirimkan beasiswa bulanananya?
Dalam pandangan itu, sang kertas tisu mengintipku dari celah antrian buku di lemari. Seakan iba, akupun meraih tangannya dan berusaha untuk mengusap lipatannya yang telah mengkerut. Tulisan itu menampakkan diri tanpa salam, malah semakin menambah kegusaranku.
Pojok hitam kertas itu telah terasa selama 2 tahun, namun sang kertas tisu tak pernah merasa iba.
Apakah di harus bertangung jawab ketika tiap waktu aku harus menunggu kabar dari tanah seberang untuk mengirimkan biaya hidup? Tentu tidak.
Pojok hitam itulah yang harus menanggung.
" . . . . . PEMBAYARAN SPP MULAI TANGGAL XX-XX-XXXX,
TERLAMBAT CUTI AKADEMIK . . . . . . "
Macetnya jalan depan kampus membuat gerah dan sepertinya kami akan terlambat untuk tiba di Bank pagi ini.
Sampai pada suara sendu mesin itu menyebut nomor antrianku, dan tiba saatnya untuk menyerahkan upeti atas masa belajarku satu semester kedepan.
Yah, setidaknya ada bukti bahwa upeti telah kubayar lunas, selembar kertas tisu berwarna kuning diberikan kepadaku dari si kasir bank yang cantik jelita.
Rincian 1 : SPP Nominal : Rp.xxx.xxx,00
Rincian 2 : PRAKTIKUM Nominal : Rp.xxx.xxx,00
Angka-angka itu bergandengan sambil terus kutatapi dan berharap akan sesuai dengan apa yang kudapat nanti.
Simpangan-simpangan pun berlalu, walaupun baru 2 sampai 3 yang kulalui.
Waktu berlalu sampai pada organ tubuh penghasil cairan empedu ini miris ketika mendengar celotehan sang dosen.
"Yah, minimal 200 ribu kalian harus berkorban"
Tahukah kamu, 200 ribu itu adalah sebuncah kertas bertuliskan BI yang akan kami keluarkan untuk melengkapi tugas proyek praktikum kami.
Ungkapan sang dosen terus mengaduk pikiranku. Kurebahkan diriku dalam bilik kosku. Pandanganku kosong memikirkan dalamnya saku celanaku. Tak maukah dia menunggu sampai 7 hari kedepan? ketika sang manusia setengah dewa di tanah asalku mengirimkan beasiswa bulanananya?
Dalam pandangan itu, sang kertas tisu mengintipku dari celah antrian buku di lemari. Seakan iba, akupun meraih tangannya dan berusaha untuk mengusap lipatannya yang telah mengkerut. Tulisan itu menampakkan diri tanpa salam, malah semakin menambah kegusaranku.
Pojok hitam kertas itu telah terasa selama 2 tahun, namun sang kertas tisu tak pernah merasa iba.
Apakah di harus bertangung jawab ketika tiap waktu aku harus menunggu kabar dari tanah seberang untuk mengirimkan biaya hidup? Tentu tidak.
Pojok hitam itulah yang harus menanggung.
Wednesday, 10 September 2014
On 12:47 by Unknown in Curahan Hati No comments
Memang benar lirik lagu yang mengatakan bahwa masa remaja adalah masa yang paling indah.
Sepercik lirik lagu itu sempat terlintas didepan keningku, dan memaksa pikiran untuk menyorot kembali masa remaja yang pernah lewat didepanku semenjak mengenakan seragam putih abu-abu.
Keindahan masa itu tak ada yang dapat dideskripsikan olehku, hanya sepenggal kisah di akhir cerita yang sempat membuatku merasakan keindahan itu dan mungkin tersipu jika mengingatnya..
Yah, romansa remaja berupa ikatan non permanen sempat menjeratku yang bahkan mengikuti alur perjalanan putih abu-abu ku.
Masa itu tak dapat terdefinisikan melalui untaian karangan atau tetesan curahan pikiran. Namun hanya bisa tergambarkan oleh alunan indah bermelodi simponi sendu.
Ibarat daun hijau yang ditetesi embun pagi dibawah siraman cahaya matahari pagi disamping kicauan burung pagi, masa itu aku rasa merupakan sejarah yang tak akan terlupakan walaupun telah kusesali mengapa skenario ceritanya seperti itu.
Cerita itu aku mulai dari menginjak tahun kedua perjalanan putih abu-abu ku. Pinggir meja belajar dalam ruang kelas adalah tempat pertama kali alur cerita ini berawal.
Pandangan anak muda membawaku terus memperhatikannya dikarenakan kharisma dan keelokan rupanya.
Yah cucu hawa yang satu ini telah merebut perhatianku yang membuat seluruh cerita indahku berawal disini.
Senyum sipu dan sapaan halus kerap terlontar diantara kami, dan aku rasa mungkin ini yang dilirik semua lagu tentang hubungan spesial - katanya.
Pandangan mematikan itu kini terkonversi pada suatu gejolak lahar gunung dalam hati yang membuat si pemompa berdeguk kencang dan kurasa disinilah saatnya..
Komunikasi kami berawal dari handphone yang kupinjam dari kakakku, yang pada awalnya hanya berkomunikasi tentang lalu lintas tugas.
Rambutnya serata bahu, ikal dan kulitnya putih, tak terlalu tinggi dari pandanganku, itulah gambaran sosok tersebut. Bahkan senyumnya masih terlihat olehku saat aku menulis kembali kisah ini, membayangkan apa yang sedang dia kerjakan sekarang...
Bersamanya, tertulis kronologi cerita kasih yang maha dahsyat, bahkan tak dapat kubayangkan jika di konversi menjadi sebuah novel (mungkin suatu saat nanti aku yang akan menjadi penulisnya) kemudian difilmkan, cerita paling romantis menurutku.
Terpaan badai itu bertemakan cinta segitiga, antara sosok itu, aku dan si dia.
Script cerita aku dan si-dia juga bermula dari kegiatan belajar bersama dalam kelas, yang tak tahu darimana alurnya sehingga membuat aku juga mengisi ceritanya.
Sosok itu dan si-dia merupakan sepasang sahabat kepompong - kupu-kupu yang hampir tak dapat terpisahkan, itulah yang membuat aku mampu dibuat terayuh.
Bermula dari komunikasi pesan singkat melalui alat elektronik, kisah itu terus anggun berjalan tanpa memerhatikan terpaan badai gelisah dan sibuknya laskar putih abu-abu.
Musim berlalu, tibalah suatu waktu dimana sosok itulah yang menjembatani aku untuk memulai hubungan romansa ala remaja dengan si-dia. Kata-kata comblangannya membuat aku bertekuk lutut dan memberikan arah yang salah pada alur ceritaku.
Sosok itu bahkan tak tahu bahwa ada pria dalam kelas itu yang memiliki sudut pandang berbeda dari pria lainnya dalam kelas, yah itu aku.
Seuntai kalimat pesan singkat itu tak kusangka harus keluar dari sang sosok, yang membuat dilema entah mana yang akan kulalui.
yah memang pada saat itu, alur cerita antara aku-sosok itu dan aku-si dia, sama besar beriring berjalannya kisah itu. Sebuah relasi romansa akhirnya resmi kuukir bersama si dia, dan menjadikan sosok itu bak penasehat kami.
Liku-liku kisah itu terus berlalu, dan sampai pada sebuah ujung ketika si dia mengetahui bahwa aku juga memiliki perasaan yang sama dngan sahabatnya, sosok itu.
dan aku baru tahu ternyata sosok itu juga memiliki alur yang sama dengan yang kurasakan.
Betapa tidak, dekatnya aku dan sosok itu teruntai saat menginjak tahun terakhir di sekolah menengah atas itu, mulai dari belajar bersama, jalan kesekolah bersama, joging bersama, sampai pada secarik kisah yang kuanggap sangat romans pada masaku dulu.
Saat itu adalah memasuki masa persiapan ujian akhir yang memaksa kami untuk menambah jam belajar di sekolah. hal itu membuat kami harus menyediakan perbekalan makanan agar kuat sampai sore. Subuh setelah shalat, tanpa ingin mebangunkan orang rumah yang masih asik berpetualang dalam alam mimpi, kutarik sebuah kuali untuk membuat masakan khusus perbekalan disekolah. Walaupun sangat sederhana karena hanya berkomposisi nasi, ikan tumis, mie goreng dan sedikit kerupuk, hidangan itu kukemas dalam sebuah stoples yang dibantu oleh ibu, untuk kemudian di bawah ke sekolah, dan tentunya hidangan itu aku persiapkan khusus untuk sang sosok dalam kisah ini.
Sip, dia menerimanya dengan senyuman walaupun tak habis.
Sempat berdeguk kencang aku saat itu, betapa tidak, itulah pemberianku yang tak pernah kulupakan, bahkan walaupun telah berlalu selama hampir 3 tahun saat aku menulis kembali kisah ini.
Alur ceritanya terus berlanjut, sampai pada sebuah peristiwa percekcokan aku si dia dan sosok itu, yang membuat semuanya menjauh.
Ketika menginjak masa yang membuat kami harus berpisah dengan era putih abu-abu, aku tak henti mendekatkanku terhadap sang sosok. Kudengar bahwa ia harus nganggur 1 tahun untuk mencari arah masa dpannya. yah, cita-citanya telah kuketahui sejak lama, ia ingin berkonsentrasi pada jurusan pendidikan tinggi yang langsung menghasilkan pekerjaan juga buatnya.
Akunnya di media sosial tak pernah lepas dari pantauanku, berharap ada secarik kisah yang dituliskannya kembali, sebagai sinyal bahwa ia mengalami hal yang sama sepertiku.
Kisah ini masih panjang, namun hanya ini yang dapat kutulis ulang dalam laman sempit ini. Banyak momen yang terlewatkan yang tak dapat tertuang.
Bagaikan sebuah kapal, saat-saat kerasnya ombak, sepoinya angin laut sampai rindangnya cahaya bulan, menghiasi cerita ini. Bahkan mungkin seandainya mampu kuulas skeseluruhan skenarionya, butuh 10 postingan paling sedikit.
Kisah ini berakhir disini, ketika kami harus berpisah karena masa depan yang harus kami persiapkan, dimana aku telah menempuh pendidikan di perguruan tinggi yang telah berusia 2 tahun, dan sosok itu sedang menjalani pendidikan kedirgantara-an.
Namun jika sosok itu tahu, sosok itulah yang telah menggores perjalanan remajaku hingga membuatnya tak bisa hilang hingga sekarang. Seuntai kisah indah selalu tersimpan disini.
Ingin aku melenyapkannya karena aku mulai mengenal tarbiyah yang memang benar tak diperbolehkannya laki-laki berhubungan dengan wanita yang bukan mahramnya.
Namun kisah itu terus meracuni liang bathinku, walaupun kata-kata ini dianggap lebay oleh pembaca, namun itulah kenyataannya.
Aku yang kini seorang aktivis dakwah kampus, juga seorang manusia biasa, yang kisah ini terus membekas dan akhirnya kutuang ulang dalam cerita sendu ini.
Aku sadar perkataan bahwa kita belum mengetahui akan bersama siapa nanti, maka merupakan kodrat jika nantinya sang sosok ditakdirkan bersama yang lain...
Semoga keselamatan dan kesuksesan selalu menyertainya,,,,,
Dan semoga istighfar selalu menyertaiku....
Sepercik lirik lagu itu sempat terlintas didepan keningku, dan memaksa pikiran untuk menyorot kembali masa remaja yang pernah lewat didepanku semenjak mengenakan seragam putih abu-abu.
Keindahan masa itu tak ada yang dapat dideskripsikan olehku, hanya sepenggal kisah di akhir cerita yang sempat membuatku merasakan keindahan itu dan mungkin tersipu jika mengingatnya..
Yah, romansa remaja berupa ikatan non permanen sempat menjeratku yang bahkan mengikuti alur perjalanan putih abu-abu ku.
Masa itu tak dapat terdefinisikan melalui untaian karangan atau tetesan curahan pikiran. Namun hanya bisa tergambarkan oleh alunan indah bermelodi simponi sendu.
Ibarat daun hijau yang ditetesi embun pagi dibawah siraman cahaya matahari pagi disamping kicauan burung pagi, masa itu aku rasa merupakan sejarah yang tak akan terlupakan walaupun telah kusesali mengapa skenario ceritanya seperti itu.
Cerita itu aku mulai dari menginjak tahun kedua perjalanan putih abu-abu ku. Pinggir meja belajar dalam ruang kelas adalah tempat pertama kali alur cerita ini berawal.
Pandangan anak muda membawaku terus memperhatikannya dikarenakan kharisma dan keelokan rupanya.
Yah cucu hawa yang satu ini telah merebut perhatianku yang membuat seluruh cerita indahku berawal disini.
Senyum sipu dan sapaan halus kerap terlontar diantara kami, dan aku rasa mungkin ini yang dilirik semua lagu tentang hubungan spesial - katanya.
Pandangan mematikan itu kini terkonversi pada suatu gejolak lahar gunung dalam hati yang membuat si pemompa berdeguk kencang dan kurasa disinilah saatnya..
Komunikasi kami berawal dari handphone yang kupinjam dari kakakku, yang pada awalnya hanya berkomunikasi tentang lalu lintas tugas.
Rambutnya serata bahu, ikal dan kulitnya putih, tak terlalu tinggi dari pandanganku, itulah gambaran sosok tersebut. Bahkan senyumnya masih terlihat olehku saat aku menulis kembali kisah ini, membayangkan apa yang sedang dia kerjakan sekarang...
Bersamanya, tertulis kronologi cerita kasih yang maha dahsyat, bahkan tak dapat kubayangkan jika di konversi menjadi sebuah novel (mungkin suatu saat nanti aku yang akan menjadi penulisnya) kemudian difilmkan, cerita paling romantis menurutku.
Terpaan badai itu bertemakan cinta segitiga, antara sosok itu, aku dan si dia.
Script cerita aku dan si-dia juga bermula dari kegiatan belajar bersama dalam kelas, yang tak tahu darimana alurnya sehingga membuat aku juga mengisi ceritanya.
Sosok itu dan si-dia merupakan sepasang sahabat kepompong - kupu-kupu yang hampir tak dapat terpisahkan, itulah yang membuat aku mampu dibuat terayuh.
Bermula dari komunikasi pesan singkat melalui alat elektronik, kisah itu terus anggun berjalan tanpa memerhatikan terpaan badai gelisah dan sibuknya laskar putih abu-abu.
Musim berlalu, tibalah suatu waktu dimana sosok itulah yang menjembatani aku untuk memulai hubungan romansa ala remaja dengan si-dia. Kata-kata comblangannya membuat aku bertekuk lutut dan memberikan arah yang salah pada alur ceritaku.
Sosok itu bahkan tak tahu bahwa ada pria dalam kelas itu yang memiliki sudut pandang berbeda dari pria lainnya dalam kelas, yah itu aku.
Seuntai kalimat pesan singkat itu tak kusangka harus keluar dari sang sosok, yang membuat dilema entah mana yang akan kulalui.
yah memang pada saat itu, alur cerita antara aku-sosok itu dan aku-si dia, sama besar beriring berjalannya kisah itu. Sebuah relasi romansa akhirnya resmi kuukir bersama si dia, dan menjadikan sosok itu bak penasehat kami.
Liku-liku kisah itu terus berlalu, dan sampai pada sebuah ujung ketika si dia mengetahui bahwa aku juga memiliki perasaan yang sama dngan sahabatnya, sosok itu.
dan aku baru tahu ternyata sosok itu juga memiliki alur yang sama dengan yang kurasakan.
Betapa tidak, dekatnya aku dan sosok itu teruntai saat menginjak tahun terakhir di sekolah menengah atas itu, mulai dari belajar bersama, jalan kesekolah bersama, joging bersama, sampai pada secarik kisah yang kuanggap sangat romans pada masaku dulu.
Saat itu adalah memasuki masa persiapan ujian akhir yang memaksa kami untuk menambah jam belajar di sekolah. hal itu membuat kami harus menyediakan perbekalan makanan agar kuat sampai sore. Subuh setelah shalat, tanpa ingin mebangunkan orang rumah yang masih asik berpetualang dalam alam mimpi, kutarik sebuah kuali untuk membuat masakan khusus perbekalan disekolah. Walaupun sangat sederhana karena hanya berkomposisi nasi, ikan tumis, mie goreng dan sedikit kerupuk, hidangan itu kukemas dalam sebuah stoples yang dibantu oleh ibu, untuk kemudian di bawah ke sekolah, dan tentunya hidangan itu aku persiapkan khusus untuk sang sosok dalam kisah ini.
Sip, dia menerimanya dengan senyuman walaupun tak habis.
Sempat berdeguk kencang aku saat itu, betapa tidak, itulah pemberianku yang tak pernah kulupakan, bahkan walaupun telah berlalu selama hampir 3 tahun saat aku menulis kembali kisah ini.
Alur ceritanya terus berlanjut, sampai pada sebuah peristiwa percekcokan aku si dia dan sosok itu, yang membuat semuanya menjauh.
Ketika menginjak masa yang membuat kami harus berpisah dengan era putih abu-abu, aku tak henti mendekatkanku terhadap sang sosok. Kudengar bahwa ia harus nganggur 1 tahun untuk mencari arah masa dpannya. yah, cita-citanya telah kuketahui sejak lama, ia ingin berkonsentrasi pada jurusan pendidikan tinggi yang langsung menghasilkan pekerjaan juga buatnya.
Akunnya di media sosial tak pernah lepas dari pantauanku, berharap ada secarik kisah yang dituliskannya kembali, sebagai sinyal bahwa ia mengalami hal yang sama sepertiku.
Kisah ini masih panjang, namun hanya ini yang dapat kutulis ulang dalam laman sempit ini. Banyak momen yang terlewatkan yang tak dapat tertuang.
Bagaikan sebuah kapal, saat-saat kerasnya ombak, sepoinya angin laut sampai rindangnya cahaya bulan, menghiasi cerita ini. Bahkan mungkin seandainya mampu kuulas skeseluruhan skenarionya, butuh 10 postingan paling sedikit.
Kisah ini berakhir disini, ketika kami harus berpisah karena masa depan yang harus kami persiapkan, dimana aku telah menempuh pendidikan di perguruan tinggi yang telah berusia 2 tahun, dan sosok itu sedang menjalani pendidikan kedirgantara-an.
Namun jika sosok itu tahu, sosok itulah yang telah menggores perjalanan remajaku hingga membuatnya tak bisa hilang hingga sekarang. Seuntai kisah indah selalu tersimpan disini.
Ingin aku melenyapkannya karena aku mulai mengenal tarbiyah yang memang benar tak diperbolehkannya laki-laki berhubungan dengan wanita yang bukan mahramnya.
Namun kisah itu terus meracuni liang bathinku, walaupun kata-kata ini dianggap lebay oleh pembaca, namun itulah kenyataannya.
Aku yang kini seorang aktivis dakwah kampus, juga seorang manusia biasa, yang kisah ini terus membekas dan akhirnya kutuang ulang dalam cerita sendu ini.
Aku sadar perkataan bahwa kita belum mengetahui akan bersama siapa nanti, maka merupakan kodrat jika nantinya sang sosok ditakdirkan bersama yang lain...
Semoga keselamatan dan kesuksesan selalu menyertainya,,,,,
Dan semoga istighfar selalu menyertaiku....
Tuesday, 1 April 2014
Bilik Kenduri
Pernahkah anda menemukan simpangan itu?
Simpangan tempat mereka merindu
Merindu akan waktunya yang lari berlalu, mengindahkan dan
tak menghiraukannya
Simpangan itu begitu terjal, tamak dan buta
Terjal akan mengikisnya usaha
Tamak akan kesetiaan dan kenistaan
Dan buta akan pengaduhan
Di bilik tripleks ini
Raga merintih kenduri
Merintih akan hilangnya benih-benih perbani
Yang selalu merintih karena halusnya duri
Jiplakan aspal itu membuatnya mengingat masa lalu
Saat bayang-bayangnya terkulai
Saat marganya bercanda malu
Karena gelora semangatnya yang lunglai
Saat mentari santai terbenam
Dia terus menggerutu bersama bayangannya
Akankah benih harapannya tertanam
Atau malah berlari di dunia maya
Tuesday, 11 February 2014
On 04:25 by Unknown in Curahan Hati No comments
Canda tawa mereka,
Hangatnya suasana rumah,
Suara kapal yang menggerutu,
Semua lengkap dirasakan di kampung halaman
tercinta..
Sungguh kembali terngiang, betapa beratnya
pikiranku terpindahkan.
Di tanah rantau ini, aku kembali..
Merasakan betapa singkatnya pertemuan
kita, kampung dan keluargaku,
Perjalanan panjang terlintas,
menggambarkan jika masih ada 2 tahun lagi perjuanganku agar aku dapat
berlama-lama berkumpul bersama keluarga di kampung halaman, menikmati jerih
payah hasil kuliah, yang pasti tidak dalam bentuk pengangguran.
Bayangan kemarin kembali terlintas,
Kerja keras yang harus dilakukan demi
visiku mencapai IP 4,00
Amanah yang menunggu di lembaga dakwah,
yang pastinya menjadi 2 kali lipat dari sebelumnya,
Yah, semangat dulu kembali pudar setelah
menyaksikan kebebasan orang-orang untuk meraup kesenangan dunia semata,
Lembaga dakwah itu mengundangku untuk
kembali mendekat kepada Allah azza wa jalla, namun agak berat langkahku di
sini.
Ruang kuliah,
Menatap dosen,
Senda gurau bersama teman,
mungkin akan kembali Minggu depan karena
di sisa Minggu ini lembaga dakwah itu menunggu,
Menunggu tertuntasnya amanah yang harus ku
renggut
Yah, mengingat Allah dapat membakar
semangat langkahku
Sekilas, bila ku menatap ruang kuliah,
pikiranku masih terganggu oleh 3 huruf sabit itu,
Ah, kulempar saja, toh masih ada semester
berikutnya
Akibat mereka pula, aku harus berbohong
kepada ayah setiap ditanya nilai apa yang keluar
Maafkan aku....
Mengingatnya,
Membayangkan wajah mereka,
Ibu dan ayah,
Langkah optimis menggertak jiwaku,
Semester ini harus kumaksimalkan segala
usahaku,
Semoga bukan hanya sepanas koyo, yang
seiring berjalannya waktu semakin dingin,
Semangat ini harus terus membara, amin.
Semangat yang membara?
Semester lalu juga berawal dengan itu,
“tidak boleh terulang lagi”
Heningku menggerutu
Namun terbalik dengan hasilnya di akhir
semester
BULLSHIT
Aku butuh penstabil
Aku tak mau jadi seperti koyo
Sengat memudarkan segala harapanku
Ya Allah, engkaulah satu-satunya
keluargaku di sini
Dinegeri orang,
Yang jauh dari lembutnya rumah, dan
indahnya senyum orang tua dan sapa kakak dan adik
SEMANGAT 45 SEMOGA TAK
MEMUDAR SAMPAI 4 BULAN KEDEPAN
AMIN
KABARAKATINA TANA WOLIO
BISMILLAH
Subscribe to:
Comments (Atom)
Search
Peduli Syam
Kunjungi Ane di Facebook
Popular Posts
Blog Archive
Powered by Blogger.












